23 January 2007

Reuni di Bencana

Akhir tahun 2006 Aceh kembali dirudung bencana, kali ini menimpa kabupaten yang hampir berbatasan dengan propinsi Sumatera Utara. Banjir lumpur yang melanda seluruh wilayah Tamiang ini membuat kehidupan masyarakat setempat terpaksa mengungsi, rumah-rumah banyak yang hancur, sebahagian terendam lumpur. Kayu-kayu besar yang juga sumbangsih tangan-tangan manusia turut menghancurkan rumah penduduk tanpa kenal belas kasihan.
Kedatangan kali ini ke bumi tamiang masih dalam rangka emergency, memfasilitasi telekomunikasi disini adalah misi yang diusung sebagian kawan-kawan yang hadir disini. seperti biasa hari-hari kembali dihabiskan di depan komputer, mengirim berita, mencari link informasi terbaru, chating ampe update blog adalah sebagian rutinitas disini.
Media Center Airputih yang terletak di kantor DPRD Tamiang sempat beberapa kali di demo, tapi bukan mendemo aktifitas Airputih, melainkan tetangga kami yaitu "Para Dewan" yang terhormat.
Terjun kelapangan bersama relawan dari Ibu 4 Aceh adalah suatu hiburan tersendiri, Fadul, Brian dan "apoteker" bang Azis adalah staff mediknya Ibu 4 Aceh, Kak Imar, Ade, dan Bang "Sawi" Yono (Begitu kami memanggilnya adalah teman setia yang menemani kami berjalan ke desa-desa pedalama. Melihat kondisi lumpur yang menggenangi alas mobilnya Bang Yono pada hari-hari awal adalah hal yang paling lumrah. Kota Kuala Simpang sebentar saja berubah menjadi "Kuala Lumpur" yang sebenar-benarnya, debu-debu liar menjadi udara segar yang menghiasi pernafasan kita (jangan dibayangkan dech...) karuan saja semua orang pada berebut mencari masker, kalo emang ada urusan yang nga penting, mending nga usah keluar deh, bisa mandi debu jadinya.
Reuni bencana sempat terjadi juga disini, kembali bertemu beberapa teman-teman lama yang pernah bertemu di wilayah bencana sebelumnya dan sedikit cerita masa lalu adalah suatu kegiatan yang sedikit menghibur (dari pada tidur cepat).
Akhirnya setelah setahun, ada juga waktu luang tuk ngisi blog ini, peace..... moga Aceh ngak kena bencana lagi (saat aku sedang menulis ini, ada kabar wilayah Padang Tiji, Pidie sedang banjir..... :D)

26 December 2005

One Year of Tsunami

Setahun sudah Badai itu berlalu, menyisakan isak tangis dan kenangan mendalam di pikiran terlebih bagi mereka yang menjadi korban dari bencana maha dahsyat itu.
Ya Allah Ya Rabbi, Ampunilah dosa saudara-saudara kami, Terimalah semua amal ibadah saudara kami, Cukup sudah cobaan yang telah telah Engkau berikan Ya Rabbi, Jauhkanlah negeri kami dari segala marabahaya dan bencana, sesungguhnya kami adalah insan-insan yang tiada berdaya
Maha Besar Engkau Ya Rabbi dengan segala keagungan-Mu, Maha Kuasa Engkau atas segala makhluk ciptaan-Mu
Sujudku pada-Mu memohon keampunan dan rahmat-Mu
............................................................................................................................
Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi
Khaliqul Badri Wa Laili Azza Wajalla
Ulon Pujo Po Sidro Po Syukur Keu Rabbi Ya Aini
Keu Kamoe Nebri Beusuci Aceh Mulia
Dikutip dari Salah Satu Bait Hikayat Prang Sabii

Tano Niha

Saohagolo, begitulah ucapan terima kasih dalam bahasa Nias....
Tiba di Nias dalam misi untuk support Internet Conection di BRR atas terbakarnya IDU dan DVB yang mengakibatkan putusnya koneksi internet Airputih di BRR, ditemani dengan Colish "sang petualang", tim langsung menyelesaikan pekerjaan pergantian DVB dan IDU yang terbakar tersebut. akhirnya VSAT kembali Up setelah melakukan beberapa kali pointing dan diperoleh sinyal 13,04 dbi, mission completed..............
Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan berpetualang menyisir Pulau Nias yang pantainya sangat dikenal, Penduduk Nias yang mayoritas non muslim membuat Tim susah untuk memperoleh makanan, dalam artian kita selayaknya memilih lokasi-lokasi yang makanannya steril untuk seorang muslim.
Kantor BRR yang berada dipinggir pantai adalah salah satu tempat yang sangat asik berinternet ria, terlebih dengan adanya Airpoint PRO Smartbridge sehingga aktifitas internet semakin asik, kita bisa duduk persis di pantai beralaskan pasir dengan ditemani Laptop plus secangkir kopi. Suasana menjadi lebih komplit ketika ada rokok di tangan ( duh enake...... )
Arena pemancingan yang berada di belakang pertamina juga tak lupa dikunjungi, bersama dengan Colish, Ade, Babe dan Bulek maka berangkatlah pasukan menuju ke tempat pemancingan, berbekal pancingan dan joran menjadikan suasana mancing jadi tambah seru, pergi siang pulang malam (layaknya seorang nelayan) tetapi sayangnya pasukan kembali dengan tangan hampa tanpa membawa hasil tangkapan, dikarenakan situasi angin yang cukup kencang dan ombak yang besar, maka itu dijadikan alasan mengapa pasukan tidak mendapat ikan......
Sekian dulu cerita dari Tanah Perantauan Nias .......................... Aini !!!

02 November 2005

Minal Aidzin Wal Faidzin

Sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Sebulan Penuh menahan diri dari lapar dan dahaga Sebulan penuh menghadapi ujian Sebulan, hanya sebulan dalam satu tahun...... Kini......... Seiring terbitnya fajar di ufuk timur Seiring berkumandangnya takbir seantero jagad raya Seiring pekik kemenangan menyambut para syuhadanya Takbiratul Ihram telah bergema Mari kita sambut hari kemenangan ini Mari kita songsong idul Fitri dalam nuansa fitrah

29 October 2005

Budaya Mudik Lebaran

Ramadhan kembali hadir di tengah tengah kita, sepertinya waktu satu tahun berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Baru kemarin menjalankan ibadah puasa dan baru kemarin juga berlebaran ke rumah kerabat, saling maaf-memaafkan, kini lebaran itu akan segera datang kembali!. Lebaran atau Idul Fitri memiliki suasana yang berbeda bagi umat Muslim di negara kita. Menjelang lebaran, masyarakat akan disibukkan dengan budaya mudik ke kampung halaman untuk dapat merayakan lebaran bersama keluarga. Saat itu kendaraan umum akan terlihat penuh-sesak penumpang, berjubel hingga harus rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket. Faktor keamanan kurang lagi menjadi perhitungan, 'pokoknya lebaran harus berada di kampung!', begitu pikiran setiap orang saat itu. Begitu pun saat lebaran usai, para pemudik balik ke kota, kembali pemandangan 'riuh-sesak' terlihat. Lebaran memang harus dirayakan sebagai hari kemenangan dari pembakaran dosa yang telah dijalankan sepanjang bulan ramadhan. Di hari Idul Fitri itu, setiap Muslim yang telah menjalani ibadah puasa secara sempurna diibaratkan seperti manusia yang dilahirkan kembali (fitrah) tanpa memiliki dosa. Hari yang 'sakral' inilah selayaknya dirayakan setiap umat Muslim. Sanak-kerabat berkumpul dan saling berkunjung memberi ucapan selamat, sekaligus saling membuka pintu maaf atas kesalahan yang telah terjadi sepanjang tahun. Teman dan partner kerja saling mengunjungi, kontak telpon atau pun setidaknya berusaha mengirimkan kartu ucapan sebagai penganti akan turut menyambut perayaan penuh kemenangan ini.